![]() |
| Love or Hate? |
"Huwaaaaaaaaaaah
I need someone to talk to!!!", begitulah kira-kira kalo hati disuruh
berbicara di waktu ini. Setres iya, banyak pikiran iya, nggak boleh mentingin diri
sendiri karena di dunia kita nggak hidup seorang diri. Apalagi yang masih
numpang sama orangtua, kaya gue gini.
Kehidupan mahasiswa semester ‘semi’ akhir emang ngeribetin.
Semacam pengujian kekuatan iman. Mata kuliahnya sih boleh dikit, empat mata
kuliah. Masuknya juga boleh lah dua kali seminggu. Tapi kenapa harus hari
terakhir weekdays dan hari perdana weekend???
Ketika sebagian besar temen-temen lu teriak #TGIF di
berbagai media sosialnya pagi itu, lu harus bersiap mandi, pilih kostum yang layak
dan manusiawi, lalu pergi ke kampus untuk menyambut dosen di kuliah perdana lu di
minggu itu.
Dan besoknya, lu juga harus menghadapi sapaan yang nggak
kalah kejamnya. Ya, tulisan “Happy
weekend!”. Lengkap dengan tanda pentung dibelakangnya. Its such a ruin your mood for that day, Isn’t it?
Kadang gue ngerasa kok ya bahagia bener mereka tuh bisa
ngucapin happy weekend begitu. Semenderita itukah weekdays mereka sampe ketemu
weekend yang cuma dua hari itu aja senengnya sampe sebegitunya? Tapi setelah
dipikir-pikir nggak sebahagia itu juga ah mereka. Toh palingan weekendnya
berakhir dengan bobo—bobo dikasur, mandi sehari sekali, mentok-mentok ditemenin
DVD atau game online.
Dan hidup gue? Di akhir weekdays, disaat orang-orang lega
karena minggu sibuk mereka bakalan segera berakhir dengan berakhirnya hari, gue
dan temen—temen seperjuangan (kelas tercinta) masih dengan kesibukan kita
mendengarkan sang dosen berbicara dan terus bicara. Sebenernya dosen semester
tujuh ini nggak ada yang ngajar textbook. Jadi nggak bikin ngantuk-ngantuk
banget. Semua berdasarkan pengalaman si dosen. Seharusnya bisa jadi gambaran
yang real buat kitanya mahasiswa ini di dunia kerja nanti. Buat yang mau
dengerin.
Sebagai anak manajemen, matkul wajib ya si manajemen itu
sendiri lah ya. Dan buat semester ini, ada manajemen strategi pemasaran. Dosennya
seorang wirausaha. Beliau punya usaha kuliner ayam yang pemasarannya via
internet. Nggak ada yang namanya kios atau semacamnya karena katanya
dilingkungan rumahnya nggak support yang kaya begitu (Rumah tinggal yang sekaligus
dijadiin tempat usaha). Pak ary ini adalah seorang yang giat menurut gue. Kalo nggak
salah beliau sempet jadi pemenang salah satu acara newbie entrepreneurship gitu.
Iya semacam itu. Dan di awal pertemuan di kelasnya, gue suka slogan usahanya
dia: “Sama produk, beda rasa. Sama rasa,
beda tampilan. Sama tampilan, beda layanan.” Bahan kuliahnya nggak jauh
dari entrepreneurship itu tadi. Keseringan sih mengandai andai kalo nanti kita
punya usaha sendiri itu gimana cara manage-nya.
Selesai matkul pertama, diseling istirahat sekitar dua
jam sebelum masuk matkul kedua. Biasanya sambil nungguin anak cowoknya sholat
jum’at, kita cewek-cewek bikin studio pribadi di kelas. Bukan, bukan studio
foto. Biasanya jarah meja dosen, culik laptop yang punya stock film banyak, maksimalin volume (waktu itu ada yang beneran
niat sampe bawa-bawa speaker), colokin kabel proyektor, matiin lampu. Dan taraaaaa
jadilah bioskop mini dadakan. Genre
film yang diputar sesuai suara terbanyak. Tiket free dan boleh bawa makanan
dari luar. Mau bawa recorder juga sok atuh silahkan.
Jam tayang bioskop mini ini nggak tentu. Nggak bener-bener
sampe filmnya abis terus bubar. Karena biasanya, baru separo film, dosennya
udah dateng. Dan beliau bingung sendiri kenapa kelasnya gelap gulita. Tenang
bapak, bener kok ruangannya disini. Dan kita juga nggak lagi bikin surprise.
Atau, bapak beneran ulang tahun hari ini? Oh oke skip. Biasanya kalo udah
begitu, yang terjadi adalah dosennya masuk, kitanya ijin keluar buat sholat
dzuhur hahahaha.
Dosen kedua ini agak kocak menurut gue. Beliau ngajar communication and leadership. Sebelum
ngasih materi, pasti selalu kasih kita cerita pengantar yang berhubungan sama
materinya dia hari itu. Kayak satu hari di satu pertemuan dia pernah cerita
tentang seorang mandor yang lagi nyari pekerja sekaligus penanggungjawab buat
ngerjain proyeknya:
“Ada seorang mandor, jadi dia lagi bingung banget nih. Dia
bingung. Padahal dia dapet proyek besar. Tapi dia bingung, dia punya proyek
tapi nggak punya pekerja. Akhirnya dia keliling buat nyari pekerja bangunan
yang deket dari tempat tinggalnya dia saat itu.
Ketemu deh tuh sama pekerja pertama, pekerjanya lagi
mainin bata sama adukan semen. Ditanya sama si mandor, “Bapak sedang apa?” si pekerja
menjawab, “Seperti yang bapak lihat, saya sedang menyatukan bata-bata ini”.
Sang mandor mengangguk-angguk lalu berjalan pergi.
Lalu bertemulah ia dengan pekerja kedua dan menanyakan
hal yang sama, “Saya sedang membuat tembok”, jawabnya. Sang mandor tersenyum
lalu melanjutkan pencariannya.
Tidak jauh dari situ, bertemulah ia dengan pekerja ketiga
dan menanyakan hal serupa, “Bapak sedang apa?”. Si pekerja menjawab, “Saya
sedang membuat rumah”.
Sang mandor itu tersenyum lebar mendengar jawaban bapak
pekerja nomor tiga dan merasa sudah menemukan orang yang tepat untuk menjadi
penanggungjawab proyeknya. Ya, Si bapak yang sedang membuat rumah.”
Kitanya bingung. Kenapa bapak yang ketiga pak? Kan semuanya
juga lagi mainin bata? Dosen gue jawab dengan senyum sumringahnya, “Kalian
dengar nggak tadi bapak itu bilang dia sedang apa? Dia bilang dia sedang
membuat rumah. Bukan menyatukan bata atau membuat tembok. Dia menjawab dengan
begitu jelas dan tegas kalau dia sedang membuat rumah. Tahu apa maksudnya? Si bapak
nomer tiga ini tahu benar apa yang ia kerjakan. Tahu untuk apa ia menyatukan
bata-bata itu. Tahu untuk apa ia membuat tembok. Ada tujuannya. Dan tujuannya
adalah, untuk dibuat rumah.
Oke ambil contoh lagi ya, kalian mau berangkat sekolah,
ketemu tetangga. Ditanya, “Kamu mau kemana?” kalian jawabnya apa? Mau sekolah
atau mau belajar? Kalau kalian jawab mau sekolah, berarti jawaban kalian sama
dengan si pekerja nomer satu dan dua tadi. Tapi, kalau kalian jawab mau belajar,
selamat. Kalian punya tujuan. Tujuan kalian adalah belajar. Bukan ke sekolah. Karena
kalo tujuannya ke sekolah, yaudah. Udah sampe sekolah mau main kek mau apa kek.
Yang penting tujuannya udah tercapai, sampai sekolah.
Nah, demikian juga untuk menjadi seorang pemimpin yang
baik. Dia tahu kemana harus berjalan. Dia punya visi. Punya misi. Punya tujuan.
Dia benar-benar paham kemana arah tujuannya dan dia tahu bagaimana caranya dia
mewujudkan tujuannya itu. dan lain lain, dan lain lain..
Disini sempet gue takjub kenapa segitu apalnya gue sama
cerita itu. Dan itulah kenapa gue bilang dosen-dosen semacam pak iman ini
sangat sayang buat dilewatin matkulnya. Ya.. meskipun nggak jarang juga dia
nyari mangsa buat di tanya pendapatnya karena di kelas dia nggak boleh ada yang
pasif. Nggak boleh ada yang nggak ngeluarin suara. Alesannya sih karena matkulnya
komunikasi, cuh. Tapi sejauh ini masih bisa diterima sih di kitanya.
Pertahankan ya pak..
Dan weekdays gue berakhir dengan bahagia. Meski pulang
sore dan harus berebutan jalan dengan sesama pengendara lainnya yang mana
macetnya pasti lebih jahat ketimbang hari pertama weekdays, tapi Alhamdulillah masih
bisa selesein hari ini dengan baik buat ketemu hari esok, yei!
***
Yeah.. I know.. This.
Is. Weekend. Good Morning.. Here we go again..
Sebenernya gue agak-agak malas buat kuliah hari ini. Bukannya
apa-apa, jalanan pasti lebih friendly
dibanding hari kerja, kampus nggak rame-rame banget karena angkatan atas maupun
bawah juga kebanyakan libur kalo weekend, jadi chance buat ketemu mantan juga nggak sebesar pas weekdays. Dan masih
bukan itu masalahnya. Matkul pertama. Ya, untuk sarapan di sabtu pagi, seminar
pasar modal udah jauh lebih dari cukup. Kelebihan malahan porsinya.
Sabtu pagi dan
proposal skripsi. Kedengarannya menyenangkan. Baiklah itu pencitraan. Kenyataannya
adalah topik bahasannya udah pasti berat. Faktor pembentuk, variabel bebas, variabel
terikat, metode penelitian, sumber data, judul, X, Y, dan lain sebagainya dan
lain sebagainya.
Di awal pertemuan
beliau pernah bilang, “Dalam menulis
proposal, biasakan JANGAN FOKUS PADA JUDUL! CARI MATERINYA DULU, CARI BAHANNYA.
JUDUL BELAKANGAN! Kenapa saya bilang begitu? Kebanyakan dari mahasiswa itu
mengajukan judulnya dulu. Dan kebanyakan dari mereka itu stuck dijudul. Pas di tanya tentang data dan metode, jawabnya “Belom
tau pak”. Apa begitu?
Saya mau kasih
gambaran, kalian tahu siklus kehidupan itu bagaimana? Ya, kalian PACARAN, LALU
MENIKAH, LALU PUNYA ANAK, ANAKNYA LAHIR, KETAUAN DIA LAKI-LAKI ATAU PEREMPUAN,
BARU KEMUDIAN DIBERI NAMA.
Nah, sama seperti
proposal skripsi. Kumpulkan datanya, tentukan metodenya, baru judulnya.”
Waw. Analoginya bagus. Sekelas diem semuanya. Dosen gue
yang ini emang udah agak berumur, tapi background-nya
sama sekali nggak bisa diremehkan. Beliau lulusan Oxford, sering bolak-balik
luar negeri untuk urusan pekerjaannya. Sekarang beliau masih aktif di OJK
(Otoritas Jasa Keuangan) Jakarta.
Pengalamannya nggak usah ditanya. Dan beliau juga nggak
pernah sungkan untuk sharing bareng
sama kita mahasiswanya di kampus. Dan namanya orang keuangan yang notabene
harus available dimanapun dan kapanpun, begitu juga pak rahim. Setiap ngasih
materi dan bikin ngantuk, ada satu hal yang bisa kita lakuin. Ngitungin banyaknya
panggilan masuk. Yang mana bakal beliau jawab dengan, “Ya, nanti telepon lagi
ya, saya masih ada kelas” untuk penelpon yang satu dan penelpon berikutnya ahahahaha.
Dan kelas gue masih berlanjut untuk matkul kedua. Diseling
istirahat sekitar sejam setengah, dan masuklah si bapak dosen kedua di hari
sabtu. Kalo harus digambarin, pak niko ini perawakannya mellow. Serius. Facenya
sendu, selalu pake jaket bahan sweater (atau sweater yang ada resletingnya? Ya itulah)
warna broken white. Rambut berantakan model baru bangun bobo. Dan voice-nya
juga minimalis. Jadi kalo mau dapet ilmunya, kita harus duduk di deretan kursi
VIP barisan paling depan.
Masalahnya, bapak ini suka sekali pake bahasa alien di slide-nya. Kalo bahasannya kita ngerti
sih oke aja pak. Masalahnya ini hal baru dan bapaknya ngajarin kitanya gitu
huhuhu mau nangis di pelukan gerrard aja rasanya tuh. Alhasil setiap matkul
fundamental, kita semua sibuk masing-masing. Dari sibuk yang elegan kayak main
smartphone, sampe sibuk yang absurd kayak bikin tagar hasil ngitungin udah
berapa kali nguap dalam dua jam terakhir.
Dan terus begitu sampe kelas selesai sekitaran jam tiga
sore. Terus pulang, mandi, bobo. Besoknya kalo nggak males, olahraga pagi deh
keliling komplek (keseringan malesnya sih) hahaha.
Kayanya semua hal diatas udah cukup rinci untuk
menjelaskan bagaimana mencoba menikmati hidup di akhir weekdays dan awal weekend. Karena
semua hal itu tergantung persepsi si yang menjalani. Tergantung gimana cara kita melihat mereka. Sekali
lagi, cara pandang. Karena ada yang pernah bilang, “If you can change your perspective, you can change your world.” Just find your best angle to get your best
view. Good luck!

No comments:
Post a Comment