Friday, September 20, 2013

Choose The Way You Have To Choose

Love or Hate?


"Huwaaaaaaaaaaah I need someone to talk to!!!", begitulah kira-kira kalo hati disuruh berbicara di waktu ini. Setres iya, banyak pikiran iya, nggak boleh mentingin diri sendiri karena di dunia kita nggak hidup seorang diri. Apalagi yang masih numpang sama orangtua, kaya gue gini.

Kehidupan mahasiswa semester ‘semi’ akhir emang ngeribetin. Semacam pengujian kekuatan iman. Mata kuliahnya sih boleh dikit, empat mata kuliah. Masuknya juga boleh lah dua kali seminggu. Tapi kenapa harus hari terakhir weekdays dan hari perdana weekend???

Ketika sebagian besar temen-temen lu teriak #TGIF di berbagai media sosialnya pagi itu, lu harus bersiap mandi, pilih kostum yang layak dan manusiawi, lalu pergi ke kampus untuk menyambut dosen di kuliah perdana lu di minggu itu.

Dan besoknya, lu juga harus menghadapi sapaan yang nggak kalah kejamnya. Ya, tulisan “Happy weekend!”. Lengkap dengan tanda pentung dibelakangnya. Its such a ruin your mood for that day, Isn’t it?

Kadang gue ngerasa kok ya bahagia bener mereka tuh bisa ngucapin happy weekend begitu. Semenderita itukah weekdays mereka sampe ketemu weekend yang cuma dua hari itu aja senengnya sampe sebegitunya? Tapi setelah dipikir-pikir nggak sebahagia itu juga ah mereka. Toh palingan weekendnya berakhir dengan bobo—bobo dikasur, mandi sehari sekali, mentok-mentok ditemenin DVD atau game online.

Dan hidup gue? Di akhir weekdays, disaat orang-orang lega karena minggu sibuk mereka bakalan segera berakhir dengan berakhirnya hari, gue dan temen—temen seperjuangan (kelas tercinta) masih dengan kesibukan kita mendengarkan sang dosen berbicara dan terus bicara. Sebenernya dosen semester tujuh ini nggak ada yang ngajar textbook. Jadi nggak bikin ngantuk-ngantuk banget. Semua berdasarkan pengalaman si dosen. Seharusnya bisa jadi gambaran yang real buat kitanya mahasiswa ini di dunia kerja nanti. Buat yang mau dengerin.

Sebagai anak manajemen, matkul wajib ya si manajemen itu sendiri lah ya. Dan buat semester ini, ada manajemen strategi pemasaran. Dosennya seorang wirausaha. Beliau punya usaha kuliner ayam yang pemasarannya via internet. Nggak ada yang namanya kios atau semacamnya karena katanya dilingkungan rumahnya nggak support yang kaya begitu (Rumah tinggal yang sekaligus dijadiin tempat usaha). Pak ary ini adalah seorang yang giat menurut gue. Kalo nggak salah beliau sempet jadi pemenang salah satu acara newbie entrepreneurship gitu. Iya semacam itu. Dan di awal pertemuan di kelasnya, gue suka slogan usahanya dia: “Sama produk, beda rasa. Sama rasa, beda tampilan. Sama tampilan, beda layanan.” Bahan kuliahnya nggak jauh dari entrepreneurship itu tadi. Keseringan sih mengandai andai kalo nanti kita punya usaha sendiri itu gimana cara manage-nya.

Selesai matkul pertama, diseling istirahat sekitar dua jam sebelum masuk matkul kedua. Biasanya sambil nungguin anak cowoknya sholat jum’at, kita cewek-cewek bikin studio pribadi di kelas. Bukan, bukan studio foto. Biasanya jarah meja dosen, culik laptop yang punya stock film banyak, maksimalin volume (waktu itu ada yang beneran niat sampe bawa-bawa speaker), colokin kabel proyektor, matiin lampu. Dan taraaaaa jadilah bioskop mini dadakan. Genre film yang diputar sesuai suara terbanyak. Tiket free dan boleh bawa makanan dari luar. Mau bawa recorder juga sok atuh silahkan.

Jam tayang bioskop mini ini nggak tentu. Nggak bener-bener sampe filmnya abis terus bubar. Karena biasanya, baru separo film, dosennya udah dateng. Dan beliau bingung sendiri kenapa kelasnya gelap gulita. Tenang bapak, bener kok ruangannya disini. Dan kita juga nggak lagi bikin surprise. Atau, bapak beneran ulang tahun hari ini? Oh oke skip. Biasanya kalo udah begitu, yang terjadi adalah dosennya masuk, kitanya ijin keluar buat sholat dzuhur hahahaha.

Dosen kedua ini agak kocak menurut gue. Beliau ngajar communication and leadership. Sebelum ngasih materi, pasti selalu kasih kita cerita pengantar yang berhubungan sama materinya dia hari itu. Kayak satu hari di satu pertemuan dia pernah cerita tentang seorang mandor yang lagi nyari pekerja sekaligus penanggungjawab buat ngerjain proyeknya:

“Ada seorang mandor, jadi dia lagi bingung banget nih. Dia bingung. Padahal dia dapet proyek besar. Tapi dia bingung, dia punya proyek tapi nggak punya pekerja. Akhirnya dia keliling buat nyari pekerja bangunan yang deket dari tempat tinggalnya dia saat itu.

Ketemu deh tuh sama pekerja pertama, pekerjanya lagi mainin bata sama adukan semen. Ditanya sama si mandor, “Bapak sedang apa?” si pekerja menjawab, “Seperti yang bapak lihat, saya sedang menyatukan bata-bata ini”. Sang mandor mengangguk-angguk lalu berjalan pergi.

Lalu bertemulah ia dengan pekerja kedua dan menanyakan hal yang sama, “Saya sedang membuat tembok”, jawabnya. Sang mandor tersenyum lalu melanjutkan pencariannya.

Tidak jauh dari situ, bertemulah ia dengan pekerja ketiga dan menanyakan hal serupa, “Bapak sedang apa?”. Si pekerja menjawab, “Saya sedang membuat rumah”.

Sang mandor itu tersenyum lebar mendengar jawaban bapak pekerja nomor tiga dan merasa sudah menemukan orang yang tepat untuk menjadi penanggungjawab proyeknya. Ya, Si bapak yang sedang membuat rumah.”

Kitanya bingung. Kenapa bapak yang ketiga pak? Kan semuanya juga lagi mainin bata? Dosen gue jawab dengan senyum sumringahnya, “Kalian dengar nggak tadi bapak itu bilang dia sedang apa? Dia bilang dia sedang membuat rumah. Bukan menyatukan bata atau membuat tembok. Dia menjawab dengan begitu jelas dan tegas kalau dia sedang membuat rumah. Tahu apa maksudnya? Si bapak nomer tiga ini tahu benar apa yang ia kerjakan. Tahu untuk apa ia menyatukan bata-bata itu. Tahu untuk apa ia membuat tembok. Ada tujuannya. Dan tujuannya adalah, untuk dibuat rumah.

Oke ambil contoh lagi ya, kalian mau berangkat sekolah, ketemu tetangga. Ditanya, “Kamu mau kemana?” kalian jawabnya apa? Mau sekolah atau mau belajar? Kalau kalian jawab mau sekolah, berarti jawaban kalian sama dengan si pekerja nomer satu dan dua tadi. Tapi, kalau kalian jawab mau belajar, selamat. Kalian punya tujuan. Tujuan kalian adalah belajar. Bukan ke sekolah. Karena kalo tujuannya ke sekolah, yaudah. Udah sampe sekolah mau main kek mau apa kek. Yang penting tujuannya udah tercapai, sampai sekolah.

Nah, demikian juga untuk menjadi seorang pemimpin yang baik. Dia tahu kemana harus berjalan. Dia punya visi. Punya misi. Punya tujuan. Dia benar-benar paham kemana arah tujuannya dan dia tahu bagaimana caranya dia mewujudkan tujuannya itu. dan lain lain, dan lain lain..

Disini sempet gue takjub kenapa segitu apalnya gue sama cerita itu. Dan itulah kenapa gue bilang dosen-dosen semacam pak iman ini sangat sayang buat dilewatin matkulnya. Ya.. meskipun nggak jarang juga dia nyari mangsa buat di tanya pendapatnya karena di kelas dia nggak boleh ada yang pasif. Nggak boleh ada yang nggak ngeluarin suara. Alesannya sih karena matkulnya komunikasi, cuh. Tapi sejauh ini masih bisa diterima sih di kitanya. Pertahankan ya pak..

Dan weekdays gue berakhir dengan bahagia. Meski pulang sore dan harus berebutan jalan dengan sesama pengendara lainnya yang mana macetnya pasti lebih jahat ketimbang hari pertama weekdays, tapi Alhamdulillah masih bisa selesein hari ini dengan baik buat ketemu hari esok, yei!

***
Yeah.. I know.. This. Is. Weekend. Good Morning.. Here we go again..
Sebenernya gue agak-agak malas buat kuliah hari ini. Bukannya apa-apa, jalanan pasti lebih friendly dibanding hari kerja, kampus nggak rame-rame banget karena angkatan atas maupun bawah juga kebanyakan libur kalo weekend, jadi chance buat ketemu mantan juga nggak sebesar pas weekdays. Dan masih bukan itu masalahnya. Matkul pertama. Ya, untuk sarapan di sabtu pagi, seminar pasar modal udah jauh lebih dari cukup. Kelebihan malahan porsinya.

Sabtu pagi  dan proposal skripsi. Kedengarannya menyenangkan. Baiklah itu pencitraan. Kenyataannya adalah topik bahasannya udah pasti berat. Faktor pembentuk, variabel bebas, variabel terikat, metode penelitian, sumber data, judul, X, Y, dan lain sebagainya dan lain sebagainya.

Di awal  pertemuan beliau pernah bilang, “Dalam menulis proposal, biasakan JANGAN FOKUS PADA JUDUL! CARI MATERINYA DULU, CARI BAHANNYA. JUDUL BELAKANGAN! Kenapa saya bilang begitu? Kebanyakan dari mahasiswa itu mengajukan judulnya dulu. Dan kebanyakan dari mereka itu stuck dijudul. Pas di tanya tentang data dan metode, jawabnya “Belom tau pak”. Apa begitu?

Saya mau kasih gambaran, kalian tahu siklus kehidupan itu bagaimana? Ya, kalian PACARAN, LALU MENIKAH, LALU PUNYA ANAK, ANAKNYA LAHIR, KETAUAN DIA LAKI-LAKI ATAU PEREMPUAN, BARU KEMUDIAN DIBERI NAMA.

Nah, sama seperti proposal skripsi. Kumpulkan datanya, tentukan metodenya, baru judulnya.”

Waw. Analoginya bagus. Sekelas diem semuanya. Dosen gue yang ini emang udah agak berumur, tapi background-nya sama sekali nggak bisa diremehkan. Beliau lulusan Oxford, sering bolak-balik luar negeri untuk urusan pekerjaannya. Sekarang beliau masih aktif di OJK (Otoritas Jasa Keuangan) Jakarta.

Pengalamannya nggak usah ditanya. Dan beliau juga nggak pernah sungkan untuk sharing bareng sama kita mahasiswanya di kampus. Dan namanya orang keuangan yang notabene harus available dimanapun dan kapanpun, begitu juga pak rahim. Setiap ngasih materi dan bikin ngantuk, ada satu hal yang bisa kita lakuin. Ngitungin banyaknya panggilan masuk. Yang mana bakal beliau jawab dengan, “Ya, nanti telepon lagi ya, saya masih ada kelas” untuk penelpon yang satu dan penelpon berikutnya ahahahaha.

Dan kelas gue masih berlanjut untuk matkul kedua. Diseling istirahat sekitar sejam setengah, dan masuklah si bapak dosen kedua di hari sabtu. Kalo harus digambarin, pak niko ini perawakannya mellow. Serius. Facenya sendu, selalu pake jaket bahan sweater (atau sweater yang ada resletingnya? Ya itulah) warna broken white. Rambut berantakan model baru bangun bobo. Dan voice-nya juga minimalis. Jadi kalo mau dapet ilmunya, kita harus duduk di deretan kursi VIP barisan paling depan.

Masalahnya, bapak ini suka sekali pake bahasa alien di slide-nya. Kalo bahasannya kita ngerti sih oke aja pak. Masalahnya ini hal baru dan bapaknya ngajarin kitanya gitu huhuhu mau nangis di pelukan gerrard aja rasanya tuh. Alhasil setiap matkul fundamental, kita semua sibuk masing-masing. Dari sibuk yang elegan kayak main smartphone, sampe sibuk yang absurd kayak bikin tagar hasil ngitungin udah berapa kali nguap dalam dua jam terakhir.

Dan terus begitu sampe kelas selesai sekitaran jam tiga sore. Terus pulang, mandi, bobo. Besoknya kalo nggak males, olahraga pagi deh keliling komplek (keseringan malesnya sih) hahaha.

Kayanya semua hal diatas udah cukup rinci untuk menjelaskan bagaimana mencoba menikmati hidup di akhir weekdays dan awal weekend. Karena semua hal itu tergantung persepsi si yang menjalani. Tergantung gimana cara kita melihat mereka. Sekali lagi, cara pandang. Karena ada yang pernah bilang, “If you can change your perspective, you can change your world.” Just find your best angle to get your best view. Good luck!

No comments:

Post a Comment